Publik | January 26, 2011 at 17:52
SOKSI Gagas Aliansi untuk Sejahterakan Rakyat
Rabu, 26 Januari 2011 17:39 WIB
JAKARTA: Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) menggagas sebuah aliansi strategis dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas) dan sosial (orsos) untuk mempercepat pencapaian kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
“Pembentukan aliansi ormas ini merupakan langkah awal menghimpun kekuatan dan gerakan kemasyarakatan yang bertujuan membangkitkan motivasi, produktivitas, serta aksi nyata bagi peningkatan kesejahteraan rakyat,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional SOKSI, Ade Komarudin, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (26/1).
Ade mengatakan gagasan ini diusung bersama Karang Taruna Nasional dengan menggandeng sejumlah ormas dan orsos antara lain GP Ansor, Komite Tinju Indonesia (KTI), Bakornas Bakesguna, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi), Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Tim perumus akan segera menetapkan nama resmi aliansi dan program kerja. “Kita akan membuat tim perumus untuk membuat nama dari kebersamaan ini, apakah aliansi atau forum, atau apapun namanya. Tim juga menyusun program kerja dan kemudian langkah-langkah nyata yang akan diambil oleh kebersamaan ini,” papar Ade kepada wartawan.
Selanjutnya, tambah Ade, SOKSI akan melakukan roadshow ke ormas dan orsos lainnya.
“Kita akan roadshow kepada ormas yang lain kepada Muhammadiyah, PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia), KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia), Walubi (Perwakilan Umat Budha Indonesia), PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) dan lain sebagainya. Mudah-mudahan seluruh ormas di Indonesia kita datangi,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa aliansi ini tidak bermotif politis. Ia pun tidak keberatan jika ada orang-orang partai politik yang masuk ke dalam aliansi ini. “Ini tidak merupakan kerja politik. Kita tidak bicara itu. Kita tanggalkan semua latar belakang. Kita bersama-sama melakukan program kesejahteraan rakyat,” tandasnya. (Ide/OL-3)
Source: media indonesia
http://arsipberita.com/show/soksi-gagas-aliansi-untuk-sejahterakan-rakyat-145995.html
Rabu, 03 Agustus 2011
Soksi Kecam Anarkis Aparat Pada Demo HMI
Soksi Kecam Anarkis Aparat Pada Demo HMI
Selasa, 25 Januari 2011 06:52 WIB | 906 Views
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Depinas SOKSI) Ade Komarudin mengutuk tindakan anarkis aparat kepolisian terhadap Ketua Umum PB HMI, Nur Fajriansyah maupun para pengunjuk rasa dari elemen mahasiswa kelompok Cipayung saat berdemo di depan Istana Negara.
"Saya kira tidak sepantasnya aparat kepolisian bersikap seperti itu, apalagi yang dilakukan mahasiswa. Barangkali demo yang mereka lakukan hanya untuk menyampaikan aspirasi, tapi bukan harus dibalas dengan tindakan anarkis," kata Ade Komarudin kepada wartawan di Gedung DPR RI, Senin.
Sebelumnya aksi demo HMI di depan Istana Negara berakhir ricuh ketika aparat keamanan melakukan tindakan anarkis dengan menangkapi para demonstran.
Lebih lanjut Ade mengaku percaya para demonstran tidak akan melakukan tindakan anarkis kalau tujuannya untuk menyampaikan aspirasi saja.
Menurut Ade Komarudin, aparat kepolisian seharusnya lebih bersikap preventif dan elegan dalam menghadapi aksi demo mahasiswa, bukan dengan tindakan represif dan anarkis.
"Ini kan aneh, kok aparat memberikan contoh bersikap anarkis. Kalau perlu, mereka yang demo itu bisa diajak berdialog dengan cara meminta perwakilan mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasinya," katanya.
Koordinator Lapangan Hendriono juga mengutuk tindakan anarkis aparat yang telah bertindak kasar dan memperlakukan mahasiswa secara tidak bermoral.
"Saya kira, baru kali ini dalam sejarah HMI, ketua umumnya dinjak-injak aparat kepolisian karena sejak Akbar Tandjung dan Anas Urbaningrum, belum ada demo HMI diinjak-injak aparat secara sadis dan brutal," kata Hendriono.
Menurut Hendriono, karena Ketua Umum PB HMI sudah diinjak-injak, pihaknya akan melakukan aksi pembalasan untuk menggalang massa yang lebih besar lagi di seluruh Indonesia.
"Beberapa aktivis HMI akan menggalang solidaritas melakukan aksi balasan di seluruh Indonesia, apalagi tindakan anarkis dan represif kepolisian itu sudah terlihat di televisi. Karena itu, perilaku aparat kepolisian secara brutal ini sudah melanggar HAM dan kalau perlu kami laporkan ke Mahkamah Internasional," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum PB HMI Nur Fajriansyah menyatakan, dirinya mengutuk keras tindakan represif aparat keamanan yang telah meginjak-injak dirinya, apalagi jabatan Ketua Umum PB HMI adalah simbol kebesaran organsasi yang sudah dihina oleh polisi.
"Saya tidak terima perlakuan anarkis yang dilakukan kepolisian dan akan menuntutnya," katanya.
Kericuhan bermula pada saat pengunjuk rasa, yang berjumlah sekitar 500 mahasiswa, menerobos ring satu Istana Negara. Aksi saling dorong tak terelakkan, meski beberapa mahasiswa berhasil menerobos. Pada saat itulah, beberapa mahasiswa dari PB HMI, termasuk ketua umumnya Nur Fajriansyah diinjak-injak aparat keamanan, sedangkan pengunjuk rasa lainnya dipukuli, meski dengan tangan kosong.
Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ton Abdillah Haz juga menyesalkan tindakan represif dari aparat keamanan. Pasalnya, dua pengunjuk rasa, Hengky F Mattan, akvitis Liga Mahasiswa Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi dan Tigor Hutapea dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia ditangkap.
Sedangkan beberapa pengunjuk rasa mengalami tindakan represif dari aparat. Mereka adalah Ahmad Latupono, aktivis HMI MPO, Ogi aktivis Liga Mahasiswa Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi, Aldo, Nur Fajri, ketua umum PB HMI), dan Kiki dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Trisakti. Tak hanya itu, Ahmad Nurhidayat, Zaidi Basiturrazak, Baits Diponegoro, Supriadi Djae, Iswan dan Karim dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Gusti Persatuan Mahasiswa Kristren Republik Indonesia dan sopir mobil sound sistem juga mengalami hal yang sama.(J004/D011/K004)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011
http://www.antaranews.com/berita/243280/soksi-kecam-anarkis-aparat-pada-demo-hmi
Selasa, 25 Januari 2011 06:52 WIB | 906 Views
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Depinas SOKSI) Ade Komarudin mengutuk tindakan anarkis aparat kepolisian terhadap Ketua Umum PB HMI, Nur Fajriansyah maupun para pengunjuk rasa dari elemen mahasiswa kelompok Cipayung saat berdemo di depan Istana Negara.
"Saya kira tidak sepantasnya aparat kepolisian bersikap seperti itu, apalagi yang dilakukan mahasiswa. Barangkali demo yang mereka lakukan hanya untuk menyampaikan aspirasi, tapi bukan harus dibalas dengan tindakan anarkis," kata Ade Komarudin kepada wartawan di Gedung DPR RI, Senin.
Sebelumnya aksi demo HMI di depan Istana Negara berakhir ricuh ketika aparat keamanan melakukan tindakan anarkis dengan menangkapi para demonstran.
Lebih lanjut Ade mengaku percaya para demonstran tidak akan melakukan tindakan anarkis kalau tujuannya untuk menyampaikan aspirasi saja.
Menurut Ade Komarudin, aparat kepolisian seharusnya lebih bersikap preventif dan elegan dalam menghadapi aksi demo mahasiswa, bukan dengan tindakan represif dan anarkis.
"Ini kan aneh, kok aparat memberikan contoh bersikap anarkis. Kalau perlu, mereka yang demo itu bisa diajak berdialog dengan cara meminta perwakilan mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasinya," katanya.
Koordinator Lapangan Hendriono juga mengutuk tindakan anarkis aparat yang telah bertindak kasar dan memperlakukan mahasiswa secara tidak bermoral.
"Saya kira, baru kali ini dalam sejarah HMI, ketua umumnya dinjak-injak aparat kepolisian karena sejak Akbar Tandjung dan Anas Urbaningrum, belum ada demo HMI diinjak-injak aparat secara sadis dan brutal," kata Hendriono.
Menurut Hendriono, karena Ketua Umum PB HMI sudah diinjak-injak, pihaknya akan melakukan aksi pembalasan untuk menggalang massa yang lebih besar lagi di seluruh Indonesia.
"Beberapa aktivis HMI akan menggalang solidaritas melakukan aksi balasan di seluruh Indonesia, apalagi tindakan anarkis dan represif kepolisian itu sudah terlihat di televisi. Karena itu, perilaku aparat kepolisian secara brutal ini sudah melanggar HAM dan kalau perlu kami laporkan ke Mahkamah Internasional," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum PB HMI Nur Fajriansyah menyatakan, dirinya mengutuk keras tindakan represif aparat keamanan yang telah meginjak-injak dirinya, apalagi jabatan Ketua Umum PB HMI adalah simbol kebesaran organsasi yang sudah dihina oleh polisi.
"Saya tidak terima perlakuan anarkis yang dilakukan kepolisian dan akan menuntutnya," katanya.
Kericuhan bermula pada saat pengunjuk rasa, yang berjumlah sekitar 500 mahasiswa, menerobos ring satu Istana Negara. Aksi saling dorong tak terelakkan, meski beberapa mahasiswa berhasil menerobos. Pada saat itulah, beberapa mahasiswa dari PB HMI, termasuk ketua umumnya Nur Fajriansyah diinjak-injak aparat keamanan, sedangkan pengunjuk rasa lainnya dipukuli, meski dengan tangan kosong.
Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ton Abdillah Haz juga menyesalkan tindakan represif dari aparat keamanan. Pasalnya, dua pengunjuk rasa, Hengky F Mattan, akvitis Liga Mahasiswa Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi dan Tigor Hutapea dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia ditangkap.
Sedangkan beberapa pengunjuk rasa mengalami tindakan represif dari aparat. Mereka adalah Ahmad Latupono, aktivis HMI MPO, Ogi aktivis Liga Mahasiswa Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi, Aldo, Nur Fajri, ketua umum PB HMI), dan Kiki dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Trisakti. Tak hanya itu, Ahmad Nurhidayat, Zaidi Basiturrazak, Baits Diponegoro, Supriadi Djae, Iswan dan Karim dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Gusti Persatuan Mahasiswa Kristren Republik Indonesia dan sopir mobil sound sistem juga mengalami hal yang sama.(J004/D011/K004)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011
http://www.antaranews.com/berita/243280/soksi-kecam-anarkis-aparat-pada-demo-hmi
SOKSI Gelar Donor Darah
SOKSI Gelar Donor Darah
23 Jan 2011 15:51 wib
Tony
JAKARTA (RiauInfo) - Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) SOKSI melalui Relawan Donor Darah Swadiri Indonesia Jakarta Pusat mengadakan acara donor darah dan pengobatan gratis yang mengambil tempat di Sekretariat Relawan Donor Darah Swadiri Indonesia Jalan Sinyar Raya Nomor 3 Rt.002, Rw.09 Kelurahan Duri Pulo, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, (23/1).
Acara yang dihadiri langsung Ketua Umum Depinas SOKSI HM Rusli Zainal itu disesaki masyarakat sekitar yang selain ingin mendonorkan darahnya juga ingin mendapat pengobatan gratis. "Ini merupakan agenda rutin kita. Tidak hanya di Jakarta acara-acara sosial seperti ini akan kita adakan, tapi juga di daerah-daerah, apakah di Kalimantan, Sulawesi, Aceh dan lainnya," terang Rusli yang juga ikut mendonorkan darahnya pada kesempatan itu.
Rusli yang didampingi beberapa pengurus Depinas SOKSI seperti HM Muas, SH yang juga Wakil Ketua Umum PMI Pusat, menyatakan akan terus menggalang acara-acara sosial untuk meringankan beban masyarakat. "SOKSI harus mampu meringankan beban masyarakat, sehingga SOKSI betul-betul terlihat sumbangsihnya di tengah-tengah masyarakat," tegas Rusli yang juga Gubernur Riau itu. (Tony/rls)
http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=11&id=13439
23 Jan 2011 15:51 wib
Tony
JAKARTA (RiauInfo) - Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) SOKSI melalui Relawan Donor Darah Swadiri Indonesia Jakarta Pusat mengadakan acara donor darah dan pengobatan gratis yang mengambil tempat di Sekretariat Relawan Donor Darah Swadiri Indonesia Jalan Sinyar Raya Nomor 3 Rt.002, Rw.09 Kelurahan Duri Pulo, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, (23/1).
Acara yang dihadiri langsung Ketua Umum Depinas SOKSI HM Rusli Zainal itu disesaki masyarakat sekitar yang selain ingin mendonorkan darahnya juga ingin mendapat pengobatan gratis. "Ini merupakan agenda rutin kita. Tidak hanya di Jakarta acara-acara sosial seperti ini akan kita adakan, tapi juga di daerah-daerah, apakah di Kalimantan, Sulawesi, Aceh dan lainnya," terang Rusli yang juga ikut mendonorkan darahnya pada kesempatan itu.
Rusli yang didampingi beberapa pengurus Depinas SOKSI seperti HM Muas, SH yang juga Wakil Ketua Umum PMI Pusat, menyatakan akan terus menggalang acara-acara sosial untuk meringankan beban masyarakat. "SOKSI harus mampu meringankan beban masyarakat, sehingga SOKSI betul-betul terlihat sumbangsihnya di tengah-tengah masyarakat," tegas Rusli yang juga Gubernur Riau itu. (Tony/rls)
http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=11&id=13439
Ade Komarudin: Soksi Miniatur Pluralisme
Ade Komarudin: Soksi Miniatur Pluralisme
Januari, 21 2011, 19:47:09 WIB oleh Admin
Jakarta, (kalimantan-news) - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Ade Komarudin menyatakan, persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama di organisasinya merupakan miniatur pluralisme dan ibarat taman indah untuk memupuk semangat pluralisme antarumat.
"Kerukunan umat beragama di SOKSI merupakan miniatur pluralisme kerukunan umat beragama di Indonesia. Ini ibarat sebuah taman indah pluralisme," kata Ketum Depinas SOKSI Ade Komarudin di Jakarta, Jumat (21/01/2011).
Sebelumnya, puncak perayaan Natal pada Kamis (20/1) malam, berlangsung semarak dan dihadiri 1500 massa. Acara itu juga dihadiri Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Akbat Tandjung, Pendiri Soksi Suhardiman, Ferdiansyah, Chairuman Harahap, Anton Sihombing dan kader pengurus lainnya.
Pada acara tersebut juga ditandai penyerahan bantuan kepada 1.000 anak yatim, fakir miskin dan janda.
Lebih lanjut Ade mengatakan, SOKSI selalu mengedepankan semangat persaudaraan, perdamaian, cinta kasih dan memberi kasih sayang.
Menurut Ade, Panitia Natal Soksi kali ini dipegang oleh kader-kader yang beragama Islam.
Ade menegaskan kerjasama yang baik antarumat beragama dalam perayaan Natal ini menjadi teladan bagi ormas lainnya, karena saat berlangsungnya perayaan Halal Bihalal Idul Fitri lalu, justru yang beragama Kristen dan Hindu yang menyelenggarakannya.
Menurut Ade Komarudin, SOKSI sebagai satu-satunya organisasi yang didirikan oleh Prof Suhardiman sejak awal kelahirannya sudah menyatakan sebagai organisasi yang pluralis dan sampai saat ini tetap konsisten mempertahankan nilai-nilai pluralisme.
Bahkan, saat bersama-sama organisasi lain mendirikan Partai Golkar juga konsisten memperjuangkan agar Golkar juga menjadi organisasi yang pluralis.
"Karena itu, saya beserta seluruh jajaran bertekat memelihara dan menyirami taman indah pluralisme SOKSI ini dan menularkannya ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," katanya.
Ade mengakui, memelihara taman indah pluralisme itu memang bukan pekerjaan yang mudah, karena akhir-akhir ini hubungan kerukunan antar umat beragama sempat tercederai oleh pemeluk agama yang berfikir dan bersikap ekstrim, atau apa yang disebut radikalisasi agama.
Apa yang terjadi dalam masyarakat hanya mempertajam perbedaan, bukan mencari titik persamaan, hanya menyebarkan kebencian, bukan perdamaian. Bahkan, yang lebih parah justru mempromosikan konflik, bukan melakukan kerjasama atau aliansi dalam rangka membantu rakyat mencapai keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan.
"SOKSI menyadari perubahan itu tidak dapat terjadi dalam semalam. Apa yang telah dilakukan para tokoh-tokoh agama selama ini sudah sangat bagus, tetapi sayangnya belum melibatkan tokoh-tokoh agama yang bersikap dan berpikir ekstrim," tegas dia.
Ade Komarudin juga mencontohkan apa yang disampaikan para tokoh lintas agama dalam menyikapi kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Ya, kebenaran memang harus disampaikan, meski terasa pahit. Seperti menyampaikan kebenaran tentang adanya kebohongan. Itu perlu dilakukan. Meski untuk pihak-pihak tertentu mungkin sakit, tapi bila dipandang ada kebohongan, haruslah disampaikan. Bagi yang menyampaikan pesan kebenaran, tentu tidak boleh disertai perasaan bahwa dia-lah yang paling benar, dan yang lain salah. Sikap adigung adiguna alias kesombongan yang berlebih tidaklah boleh dimiliki oleh siapapun, terutama oleh para penyelenggara negara tanpa kecuali," ujarnya.
Karena itu, lanjutnya, SOKSI bertekat akan terus menyampaikan kebenaran dan berbuat kebajikan dengan karya-karya nyata dalam berbagai sektor kehidupan. SOKSI juga tidak akan merasa yang paling benar dan yang paling banyak berbuat kebajikan.
Ketua Panitia Ferdiansyah menyatakan, perayaan Natal ini sebagai wujud kebhinekaan dari SOKSI terhadap kerukunan antar umat beragama.
"Kepedulian dan kebersamaan SOKSI patut diaktualisasikan oleh ormas lainnya dalam menjaga solidaritas antar umat beragama," ujarnya.
Tradisi SOKSI
Sebelumnya, Pendiri SOKSI Prof Dr Suhardiman menyatakan, perayaan semacam ini merupakan ciri khas sekaligus tradisi SOKSI yang harus tetap dipertahankan dengan mengedepankan semangat pluralisme dan ke-Indonesian-an.
Hal ini, tambahnya, sekaligus merefleksikan ajaran agama yang mengedepankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang.
Menurut Suhardiman, makna hakiki dari perayaan Natal adalah berdamai dengan diri sendiri dan juga dengan orang lain. Artinya, sebelum seseorang berdamai dengan orang lain, terlebih dahulu orang itu harus bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Apabila semua orang di muka bumi ini mampu berdamai dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain, maka dunia ini akan selamat dari segala musibah dan bencana.
"Umat manusia akan hidup tenteram menikmati kasih karunia Allah SWT, sehingga tidak ada lagi kebohongan baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Karena itu, apa yang disampaikan para tokoh lintas agama mengeluarkan pernyataan keras tentang kebohongan merupakan sebuah otokritik yang patut diperhatikan oleh semua pihak," katanya.
Andaikan pernyataan para tokoh lintas agama itu benar, katanya, maka hal ini bisa menjadi bencana besar bagi bangsa karena memiliki seorang pemimpin yang berbohong. "Dalam agama manapun, kebohongan itu merupakan perbuatan yang tercela dan dilarang oleh agama," tegasnya.
Suhardiman juga mengingatkan, perayaan Natal hendaklah menjadi momentum kembali ke fitrah dan senantiasa berbuat kebajikan bagi sesama umat manusia, sehingga mampu menjadi penerang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena, bangsa Indonesia sekarang ini sedang menghadapi berbagai cobaan dan tantangan, termasuk berbagai tindakan anarkis seperti insiden kekerasan jemaat HKBP yang mengatasnamakan agama. Kondisi ini menjadi tantangan kita bersama karena semangat pluralitas keagamaan kembali diuji.
"Pluralisme haruslah dipahami sebagai pertalian sejati kebinekaan dalam membangun ikatan-ikatan peradaban. Pluralisme menjadi suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia dalam semangat kebhinekaan yang kita miliki sesuai dengan cita-cita luhur para Founding Father," katanya.
Karena itu, Suhardiman mengingatkan SOKSI harus menjadi organisasi terdepan dalam membangun semangat kebhinekaan.
SOKSI, tambah Suhardiman, dilahirkan oleh semangat pembaruan dan pembangunan masyarakat Indonesia yang berorientasi pada prinsip kemerdekaan, kekeluargaan, dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. (phs/Ant)
http://www.kalimantan-news.com/berita.php?idb=3633
Januari, 21 2011, 19:47:09 WIB oleh Admin
Jakarta, (kalimantan-news) - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Ade Komarudin menyatakan, persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama di organisasinya merupakan miniatur pluralisme dan ibarat taman indah untuk memupuk semangat pluralisme antarumat.
"Kerukunan umat beragama di SOKSI merupakan miniatur pluralisme kerukunan umat beragama di Indonesia. Ini ibarat sebuah taman indah pluralisme," kata Ketum Depinas SOKSI Ade Komarudin di Jakarta, Jumat (21/01/2011).
Sebelumnya, puncak perayaan Natal pada Kamis (20/1) malam, berlangsung semarak dan dihadiri 1500 massa. Acara itu juga dihadiri Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Akbat Tandjung, Pendiri Soksi Suhardiman, Ferdiansyah, Chairuman Harahap, Anton Sihombing dan kader pengurus lainnya.
Pada acara tersebut juga ditandai penyerahan bantuan kepada 1.000 anak yatim, fakir miskin dan janda.
Lebih lanjut Ade mengatakan, SOKSI selalu mengedepankan semangat persaudaraan, perdamaian, cinta kasih dan memberi kasih sayang.
Menurut Ade, Panitia Natal Soksi kali ini dipegang oleh kader-kader yang beragama Islam.
Ade menegaskan kerjasama yang baik antarumat beragama dalam perayaan Natal ini menjadi teladan bagi ormas lainnya, karena saat berlangsungnya perayaan Halal Bihalal Idul Fitri lalu, justru yang beragama Kristen dan Hindu yang menyelenggarakannya.
Menurut Ade Komarudin, SOKSI sebagai satu-satunya organisasi yang didirikan oleh Prof Suhardiman sejak awal kelahirannya sudah menyatakan sebagai organisasi yang pluralis dan sampai saat ini tetap konsisten mempertahankan nilai-nilai pluralisme.
Bahkan, saat bersama-sama organisasi lain mendirikan Partai Golkar juga konsisten memperjuangkan agar Golkar juga menjadi organisasi yang pluralis.
"Karena itu, saya beserta seluruh jajaran bertekat memelihara dan menyirami taman indah pluralisme SOKSI ini dan menularkannya ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," katanya.
Ade mengakui, memelihara taman indah pluralisme itu memang bukan pekerjaan yang mudah, karena akhir-akhir ini hubungan kerukunan antar umat beragama sempat tercederai oleh pemeluk agama yang berfikir dan bersikap ekstrim, atau apa yang disebut radikalisasi agama.
Apa yang terjadi dalam masyarakat hanya mempertajam perbedaan, bukan mencari titik persamaan, hanya menyebarkan kebencian, bukan perdamaian. Bahkan, yang lebih parah justru mempromosikan konflik, bukan melakukan kerjasama atau aliansi dalam rangka membantu rakyat mencapai keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan.
"SOKSI menyadari perubahan itu tidak dapat terjadi dalam semalam. Apa yang telah dilakukan para tokoh-tokoh agama selama ini sudah sangat bagus, tetapi sayangnya belum melibatkan tokoh-tokoh agama yang bersikap dan berpikir ekstrim," tegas dia.
Ade Komarudin juga mencontohkan apa yang disampaikan para tokoh lintas agama dalam menyikapi kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Ya, kebenaran memang harus disampaikan, meski terasa pahit. Seperti menyampaikan kebenaran tentang adanya kebohongan. Itu perlu dilakukan. Meski untuk pihak-pihak tertentu mungkin sakit, tapi bila dipandang ada kebohongan, haruslah disampaikan. Bagi yang menyampaikan pesan kebenaran, tentu tidak boleh disertai perasaan bahwa dia-lah yang paling benar, dan yang lain salah. Sikap adigung adiguna alias kesombongan yang berlebih tidaklah boleh dimiliki oleh siapapun, terutama oleh para penyelenggara negara tanpa kecuali," ujarnya.
Karena itu, lanjutnya, SOKSI bertekat akan terus menyampaikan kebenaran dan berbuat kebajikan dengan karya-karya nyata dalam berbagai sektor kehidupan. SOKSI juga tidak akan merasa yang paling benar dan yang paling banyak berbuat kebajikan.
Ketua Panitia Ferdiansyah menyatakan, perayaan Natal ini sebagai wujud kebhinekaan dari SOKSI terhadap kerukunan antar umat beragama.
"Kepedulian dan kebersamaan SOKSI patut diaktualisasikan oleh ormas lainnya dalam menjaga solidaritas antar umat beragama," ujarnya.
Tradisi SOKSI
Sebelumnya, Pendiri SOKSI Prof Dr Suhardiman menyatakan, perayaan semacam ini merupakan ciri khas sekaligus tradisi SOKSI yang harus tetap dipertahankan dengan mengedepankan semangat pluralisme dan ke-Indonesian-an.
Hal ini, tambahnya, sekaligus merefleksikan ajaran agama yang mengedepankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang.
Menurut Suhardiman, makna hakiki dari perayaan Natal adalah berdamai dengan diri sendiri dan juga dengan orang lain. Artinya, sebelum seseorang berdamai dengan orang lain, terlebih dahulu orang itu harus bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Apabila semua orang di muka bumi ini mampu berdamai dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain, maka dunia ini akan selamat dari segala musibah dan bencana.
"Umat manusia akan hidup tenteram menikmati kasih karunia Allah SWT, sehingga tidak ada lagi kebohongan baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Karena itu, apa yang disampaikan para tokoh lintas agama mengeluarkan pernyataan keras tentang kebohongan merupakan sebuah otokritik yang patut diperhatikan oleh semua pihak," katanya.
Andaikan pernyataan para tokoh lintas agama itu benar, katanya, maka hal ini bisa menjadi bencana besar bagi bangsa karena memiliki seorang pemimpin yang berbohong. "Dalam agama manapun, kebohongan itu merupakan perbuatan yang tercela dan dilarang oleh agama," tegasnya.
Suhardiman juga mengingatkan, perayaan Natal hendaklah menjadi momentum kembali ke fitrah dan senantiasa berbuat kebajikan bagi sesama umat manusia, sehingga mampu menjadi penerang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena, bangsa Indonesia sekarang ini sedang menghadapi berbagai cobaan dan tantangan, termasuk berbagai tindakan anarkis seperti insiden kekerasan jemaat HKBP yang mengatasnamakan agama. Kondisi ini menjadi tantangan kita bersama karena semangat pluralitas keagamaan kembali diuji.
"Pluralisme haruslah dipahami sebagai pertalian sejati kebinekaan dalam membangun ikatan-ikatan peradaban. Pluralisme menjadi suatu keharusan bagi keselamatan umat manusia dalam semangat kebhinekaan yang kita miliki sesuai dengan cita-cita luhur para Founding Father," katanya.
Karena itu, Suhardiman mengingatkan SOKSI harus menjadi organisasi terdepan dalam membangun semangat kebhinekaan.
SOKSI, tambah Suhardiman, dilahirkan oleh semangat pembaruan dan pembangunan masyarakat Indonesia yang berorientasi pada prinsip kemerdekaan, kekeluargaan, dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. (phs/Ant)
http://www.kalimantan-news.com/berita.php?idb=3633
SOKSI Bantu Korban Puting Beliung
Rabu, 19 Januari 2011 | 19:39:03 WITA
SOKSI Bantu Korban Puting Beliung
MAKASSAR -- Sebanyak 150 rumah rusak di Kampung Nelayan, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, diterjang angin puting beliung, hari Minggu. Selusin rumah dilaporkan rusak berat, dan selebihnya rusak ringan.
Korban puting beliung di Kelurahan Untia itu ditinjau Ketua Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Makassar, Andi Hasir, didampingi Camat Biringkanaya, Zulkifli, Selasa, 18 Januari.
Kepada korban, Hasir menyerahkan sejumlah bantuan dari SOKSI.
Muhammad Arif, warga Untia, mengatakan, angin puting beliung yang menerjang perkampungan ini terdahsyat dalam sepuluh tahun terakhir. Bahkan air laut pun masuk ke wilayah permukiman. "Kami sangka tsunami," ujar Muhammad Arif. (met)
http://www.fajar.co.id/read-20110118193903-soksi-bantu-korban-puting-beliung
SOKSI Bantu Korban Puting Beliung
MAKASSAR -- Sebanyak 150 rumah rusak di Kampung Nelayan, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, diterjang angin puting beliung, hari Minggu. Selusin rumah dilaporkan rusak berat, dan selebihnya rusak ringan.
Korban puting beliung di Kelurahan Untia itu ditinjau Ketua Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Makassar, Andi Hasir, didampingi Camat Biringkanaya, Zulkifli, Selasa, 18 Januari.
Kepada korban, Hasir menyerahkan sejumlah bantuan dari SOKSI.
Muhammad Arif, warga Untia, mengatakan, angin puting beliung yang menerjang perkampungan ini terdahsyat dalam sepuluh tahun terakhir. Bahkan air laut pun masuk ke wilayah permukiman. "Kami sangka tsunami," ujar Muhammad Arif. (met)
http://www.fajar.co.id/read-20110118193903-soksi-bantu-korban-puting-beliung
SOKSI Ancam Duduki Gedung Dewan
SOKSI Ancam Duduki Gedung Dewan
Tuesday, 18 January 2011 07:54
administrator
Elemen Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), Kamis siang mengeluarkan pernyataan sikap.
Tampaknya Agus Sakera dari elemen SOKSI gerah dengan munculnya gerakan pro dan kontra penunjukan Penjabat Bupati Jember, Tedy Zarkasi, yang berujung aksi boikot sebagian besar anggota dewan yang pro bupati non aktif MZA Djalal.
Koordinator Lapangan Baladika Karya Soksi Jember, Ismail Fauzi, meminta agar polemik yang terjadi segera diakhiri. Semua elemen, termasuk DPRD Jember, kembali ke jatidiri yang sebenarnya sebagai wakil rakyat. Mereka bertanggungjawab atas terbengkalainya pembahasan RAPBD 2011 yang berujung pada ketidakpastian program bagi rakyat kecil. Ismail mendesak semua anggota dewan taat hukum dan anggota dewan segera membahas RAPBD 2011. SOKSI memberi deadline sampai akhir Januari 2011.
Pernyataan lebih keras dilontarkan Ketua LSM Sakera, Maryatmo. Dengan tegas Maryatmo mendesak dihentikannya gaji anggota dewan yang nyata-nyata tidak memihak pada kepentingan rakyat. Dengan terbengkalainya pembahasan RAPBD 2011 maka pembangunan di Kabupaten Jember terancam macet dan ujung-ujungnya menyengsarakan rakyat kecil. Jika anggota dewan tidak bisa melunak, seharusnya gaji mereka yang tidak pro rakyat dihentikan. (Edison)
Copyright © 2011 Prosalina Radio. All Rights Reserved. Designed by Prosalina Radio. Jl. Karimata No. 98 Jember 68121
http://www.prosalina.lcunej.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1559:soksi-ancam-duduki-gedung-dewan-&catid=67:art&Itemid=392
Tuesday, 18 January 2011 07:54
administrator
Elemen Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), Kamis siang mengeluarkan pernyataan sikap.
Tampaknya Agus Sakera dari elemen SOKSI gerah dengan munculnya gerakan pro dan kontra penunjukan Penjabat Bupati Jember, Tedy Zarkasi, yang berujung aksi boikot sebagian besar anggota dewan yang pro bupati non aktif MZA Djalal.
Koordinator Lapangan Baladika Karya Soksi Jember, Ismail Fauzi, meminta agar polemik yang terjadi segera diakhiri. Semua elemen, termasuk DPRD Jember, kembali ke jatidiri yang sebenarnya sebagai wakil rakyat. Mereka bertanggungjawab atas terbengkalainya pembahasan RAPBD 2011 yang berujung pada ketidakpastian program bagi rakyat kecil. Ismail mendesak semua anggota dewan taat hukum dan anggota dewan segera membahas RAPBD 2011. SOKSI memberi deadline sampai akhir Januari 2011.
Pernyataan lebih keras dilontarkan Ketua LSM Sakera, Maryatmo. Dengan tegas Maryatmo mendesak dihentikannya gaji anggota dewan yang nyata-nyata tidak memihak pada kepentingan rakyat. Dengan terbengkalainya pembahasan RAPBD 2011 maka pembangunan di Kabupaten Jember terancam macet dan ujung-ujungnya menyengsarakan rakyat kecil. Jika anggota dewan tidak bisa melunak, seharusnya gaji mereka yang tidak pro rakyat dihentikan. (Edison)
Copyright © 2011 Prosalina Radio. All Rights Reserved. Designed by Prosalina Radio. Jl. Karimata No. 98 Jember 68121
http://www.prosalina.lcunej.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1559:soksi-ancam-duduki-gedung-dewan-&catid=67:art&Itemid=392
SOKSI Desak Pemerintah Atasi Krisis Pangan
SOKSI Desak Pemerintah Atasi Krisis Pangan
Rabu, 12 Januari 2011 | 14:31
JAKARTA- Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) mendesak pemerintah segera bergerak cepat mengantisipasi ancaman krisis pangan pada 2011 menyusul sinyal dari FAO, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia.
"Depinas SOKSI mendesak pemerintah untuk mengantisipasi secara serius berbagai peringatan tersebut. Jika pemerintah tidak, maka dikhawatirkan menjadi bola liar yang sangat membahayakan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, termasuk kehidupan para petani," kata Ketua Umum Depinas SOKSI Ade Komarudin kepada wartawan di Gedung DPR Senayan Jakarta, Rabu.
Menurut Ade, saat ini dunia sedang menghadapi ancaman menurunnya produksi pangan akibat perubahan iklim. FAO memprediksi sejak 2009-2015 produksi pangan dunia merosot hingga lima persen. Saat ini secara global, harga pangan dunia sudah naik hingga 35%, sedangkan harga gandum sudah melonjak hingga 50% dan akan membawa efek berganda.
Harga beras internasional saat ini juga terus naik. Di Thailand harga beras telah mencapai US$ 500 per ton, bahkan di California mencapai US$ 875.
"Kenaikan harga pangan dunia ini akan berdampak langsung bagi kondisi pangan nasional karena tingkat ketergantungan masyarakat masih tinggi khususnya impor bahan pangan,” kata dia.
Terkait kondisi harga pangan nasional, SOKSI mencatat pada minggu pertama tahun 2011 masih diwarnai dengan kenaikan harga kebutuhan bahan pokok atau sembako. Kenaikan rata-rata bahan pokok seperti beras, minyak, telur, gula dan terigu antara Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram di pasar tradisional, bahkan kenaikan harga pada cabai telah mencapai Rp 120 ribu per kg.
"Kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan pangan akan menjadi pukulan berat bagi rakyat khususnya warga miskin. Hal ini disebabkan pengeluaran maupun kemampuan daya beli keluarga miskin terhadap pangan menempati persentase yang sangat besar dari total pengeluaran keluarga," katanya.
Ade Komarudin juga menambahkan, selain perubahan iklim yang ekstrim, kenaikan harga pangan dan ancaman krisis pangan di Indonesia juga disebabkan karena selama ini pemerintah kurang memprioritaskan pembangunan sektor pertanian.
Dalam jangka panjang, SOKSI mendesak agar program swasembada beras dilakukan secara serius melalui berbagai strategi antara lain peningkatan produktivitas, perluasan areal, strategi pengamanan hasil produksi, serta strategi penguatan kelembagaan dan pembiayaan kepada petani.
Selain itu, lanjutnya, untuk memperkuat ketahanan pangan, SOKSI memandang bahwa setidaknya ada tiga faktor yang harus diperhatikan pemerintah yaitu faktor ketersediaan pangan, distribusi serta faktor keterjangkauan dan daya beli masyarakat.
"Ketiga faktor tersebut sangat penting mengingat pangan merupakan sektor fundamental karena menyangkut hajat hidup masyarakat dan perlu diingat bahwa ketersediaan pangan menjadi tanggung jawab pemerintah," kata Sekretaris Fraksi Partai Golkar itu. (gor/ant)
http://www.investor.co.id/home/soksi-desak-pemerintah-atasi-krisis-pangan/2871
Rabu, 12 Januari 2011 | 14:31
JAKARTA- Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) mendesak pemerintah segera bergerak cepat mengantisipasi ancaman krisis pangan pada 2011 menyusul sinyal dari FAO, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia.
"Depinas SOKSI mendesak pemerintah untuk mengantisipasi secara serius berbagai peringatan tersebut. Jika pemerintah tidak, maka dikhawatirkan menjadi bola liar yang sangat membahayakan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, termasuk kehidupan para petani," kata Ketua Umum Depinas SOKSI Ade Komarudin kepada wartawan di Gedung DPR Senayan Jakarta, Rabu.
Menurut Ade, saat ini dunia sedang menghadapi ancaman menurunnya produksi pangan akibat perubahan iklim. FAO memprediksi sejak 2009-2015 produksi pangan dunia merosot hingga lima persen. Saat ini secara global, harga pangan dunia sudah naik hingga 35%, sedangkan harga gandum sudah melonjak hingga 50% dan akan membawa efek berganda.
Harga beras internasional saat ini juga terus naik. Di Thailand harga beras telah mencapai US$ 500 per ton, bahkan di California mencapai US$ 875.
"Kenaikan harga pangan dunia ini akan berdampak langsung bagi kondisi pangan nasional karena tingkat ketergantungan masyarakat masih tinggi khususnya impor bahan pangan,” kata dia.
Terkait kondisi harga pangan nasional, SOKSI mencatat pada minggu pertama tahun 2011 masih diwarnai dengan kenaikan harga kebutuhan bahan pokok atau sembako. Kenaikan rata-rata bahan pokok seperti beras, minyak, telur, gula dan terigu antara Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram di pasar tradisional, bahkan kenaikan harga pada cabai telah mencapai Rp 120 ribu per kg.
"Kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan pangan akan menjadi pukulan berat bagi rakyat khususnya warga miskin. Hal ini disebabkan pengeluaran maupun kemampuan daya beli keluarga miskin terhadap pangan menempati persentase yang sangat besar dari total pengeluaran keluarga," katanya.
Ade Komarudin juga menambahkan, selain perubahan iklim yang ekstrim, kenaikan harga pangan dan ancaman krisis pangan di Indonesia juga disebabkan karena selama ini pemerintah kurang memprioritaskan pembangunan sektor pertanian.
Dalam jangka panjang, SOKSI mendesak agar program swasembada beras dilakukan secara serius melalui berbagai strategi antara lain peningkatan produktivitas, perluasan areal, strategi pengamanan hasil produksi, serta strategi penguatan kelembagaan dan pembiayaan kepada petani.
Selain itu, lanjutnya, untuk memperkuat ketahanan pangan, SOKSI memandang bahwa setidaknya ada tiga faktor yang harus diperhatikan pemerintah yaitu faktor ketersediaan pangan, distribusi serta faktor keterjangkauan dan daya beli masyarakat.
"Ketiga faktor tersebut sangat penting mengingat pangan merupakan sektor fundamental karena menyangkut hajat hidup masyarakat dan perlu diingat bahwa ketersediaan pangan menjadi tanggung jawab pemerintah," kata Sekretaris Fraksi Partai Golkar itu. (gor/ant)
http://www.investor.co.id/home/soksi-desak-pemerintah-atasi-krisis-pangan/2871
Langganan:
Postingan (Atom)